Almarhun Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Mr. Moeljatmo Darmosapoetro, didampingi istrinya saat berbincang- bincang dengan Almarhum Presiden Ke- 2 RI, H. Mohammad Soeharto. ( Foto : dok)
SURAKARTA(Indonesia publisher.com) — Profesi notaris di Kota Surakarta tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang para pionirnya. Salah satu tokoh penting yang meletakkan dasar profesi ini di Kota Solo adalah Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Mr. Moeljatmo Darmosapoetro.
Kisah hidup sang tokoh diceritakan kembali oleh sang cucu, yang merupakan Notaris – PPAT Kota Surakarta, Maya Iswari, S.H., M.Kn kepada media ini baru – baru ini yang berbincang-bincang secara eksklusif di Kantornya kawasan Jl. DI Panjaitan No.22, Setabelan, Kec. Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah.
Maya Iswari, S. H., M. Kn, Notaris – PPAT Kota Surakarta
Untuk itu, masih dalam rangka memaknai refleksi Hari Ulang Tahun ( HUT) Ikatan Notaris Indonesia yang ke- 118 tahun pada bulan Juli 2026 ini, Media Nasional INDONESIAPUBLISHER.COM mengangkat sebuah berita yang inspiratif yang bisa menjadi sebuah teladan sekaligus Legacy bagi insan para Notaris di seluruh Indonesia.
Perjalanan Karier: Dari Militer, Pengusaha, hingga Dunia Hukum
Lahir di Wonogiri pada 26 November 1920, Moeljatmo mengawali masa mudanya dengan menempuh pendidikan dasar di tanah kelahirannya. Ia kemudian bergabung menjadi anggota tentara dan sempat berada di angkatan yang sama dengan mantan Presiden RI Kedua, Soeharto. Moeljatmo memutuskan menyudahi karier militernya dengan pangkat terakhir Mayor.
Almarhum Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Mr. Moeljatmo Darmosapoetro bersama istri tercinta
Selepas dari dunia militer, ia sempat merambah dunia bisnis dengan mendirikan usaha percetakan bernama “Dwi Warna” di Solo. Namun, ketertarikannya pada dunia hukum membawanya mengambil pendidikan Hukum Militer di Bandung pada era 1950-an. Berbekal latar belakang hukum tersebut, ia melanjutkan pendidikan Notariat di Universitas Indonesia (UI) Jakarta.
Menjadi Pionir Notaris di Solo
Karier dinasnya sebagai Notaris dimulai di Salatiga. Baru pada tahun 1963, Moeljatmo resmi bertugas sebagai Notaris di Solo. Pada masa itu, jumlah notaris di Solo masih sangat terbatas. Moeljatmo, bersama dengan rekan sejawatnya seperti Pak Gondo dan Ibu Maria Theresia, tercatat sebagai generasi awal Notaris di Kota tersebut.
Berkat dedikasi dan keahliannya, ia dianugerahi gelar kebangsawanan Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) dari Keraton Mangkunegaran Surakarta. Sementara gelar “Mr.” di depan namanya merujuk pada Meester in de Rechten (Mister), gelar sarjana hukum peninggalan zaman itu.
Jiwa Sosial dan Warisan Nilai
Selain aktif di dunia hukum, Moeljatmo dikenal memiliki jiwa sosial yang tinggi. Ia aktif mengelola berbagai yayasan, salah satunya Yayasan Mangadek Astanagiribangun Karanganyar. Nama KRT Mr. Moeljatmo Darmosapoetro bahkan abadi terpahat pada prasasti di Monumen Yayasan Mangadek. Tokoh teladan ini wafat pada tahun 1985.
Estafet Profesi yang Turun ke Cucu
Uniknya, dari 11 anak yang dimiliki Moeljatmo, tidak ada satu pun yang mengikuti jejaknya menjadi Notaris. Anak pertamanya justru berkarier di dunia perbankan. Profesi ini justru melompati satu generasi dan turun kepada cucunya.
Sita Iswinanti, S.H.,M.Kn. Notaris – PPAT di Kabupaten Karanganyar
“Pertama yang menggeluti profesi Notaris itu almarhum suami saya, Mohammad Budiman, S.H., Sp.N, lulusan Notariat Undip. Kemudian saya sendiri mengambil prodi Notariat di UGM Yogyakarta,” ungkap Maya Iswari. Saya dulunya sebagai Notaris – PPAT di Kabupaten Sukoharjo. Kemudian pada tahun 2018, saya pindah tugas sebagai Notaris – PPAT di Kota Surakarta sampai sekarang, “jelas Maya.
Maya Iswari menjelaskan kembali, selain itu adik saya Sita Iswinanti, S.H.,M.Kn. juga menjadi Notaris – PPAT di Kabupaten Karanganyar , tapi PPAT- nya sebelumnya Sita itu di Tangerang Selatan , karena SK Notarisnya mengambil di Karanganyar, terus PPAT – nya oleh dia ikut ditarik ke Karanganyar sekira tahun 2008 silam.
Pesan untuk Generasi Muda
Maya mengenang sang kakek sebagai sosok yang disiplin, gemar membaca, serta selalu menerapkan prinsip kehati-hatian dan kecermatan yang tinggi dalam bekerja. Menutup kisahnya, Maya menitipkan pesan penting bagi para Anggota Luar Biasa (ALB) Ikatan Notaris Indonesia maupun para notaris baru.
“Terus tingkatkan integritas sebagai seorang Notaris. Jangan pernah berhenti untuk tetap belajar dan selalu bangun jaringan dengan siapapun,” pungkas Maya.
Kesan, Pesan, dan Harapan dari Pihak Keluarga :
Kesan : Maya merasa sangat terharu, bangga, dan tersanjung atas perhatian serta penghormatan yang begitu besar dari jajaran Pengwil Jateng INI terhadap dedikasi mendiang kakeknya. Kehadiran rombongan dinilai sebagai bukti nyata bahwa sejarah dan jasa para pendahulu tidak pernah dilupakan.
Pesan : Beliau berpesan agar para notaris aktif—khususnya generasi muda—selalu memegang teguh kode etik profesi, jujur, dan mengutamakan integritas di atas segalanya, sebagaimana nilai-nilai yang selalu ditanamkan oleh KRT. Moeljatmo Darmosapoetro.
Harapan : Maya berharap agar ziarah ini mampu menyalakan kembali api semangat keteladanan para tokoh senior di dalam sanubari setiap anggota INI. Ia juga berharap agar Pengwil Jateng INI terus tumbuh menjadi organisasi yang solid, bersatu, dan senantiasa menjadi garda terdepan dalam menjaga marwah serta keluhuran martabat jabatan Notaris di Indonesia.
Apresiasi Dari Ketua Pengwil Jawa Tengah INI
Dalam kesempatan itu, Ketua Pengwil Jateng INI, Dr. H. Al- Halim, S. H.,M.Kn.,M.H menekankan : “K.R.T. Moeljatmo Darmosapoetro adalah Fondasi Integritas Kita”
Merespons kisah perjuangan tersebut, Ketua Pengwil Jateng INI, Dr. H. Al-Halim, SH, M.Kn, M.H, menyampaikan untaian kata yang menyentuh hati mengenai sosok almarhum.
“Sosok K.R.T. Moeljatmo Darmosapoetro bukan sekadar nama dalam lembar sejarah kenotariatan Solo, melainkan batu fondasi kokoh yang meletakkan dasar integritas, ketelitian, dan pengabdian bagi kita semua di Jawa Tengah. Beliau adalah teladan nyata bahwa jabatan notaris adalah jalan pengabdian untuk kepastian hukum masyarakat. Kami datang ke sini untuk menyerap kembali semangat itu agar INI terus jaya dan bermartabat,” tegas Dr. H. Al-Halim dengan penuh takzim. (zoe/jay/tim/red)
Laporan : Bagas Edi Bawono
Editor : Mayang Putri Laksmi Ayu
